Moratorium PNS = Menutup Lubang Neraka …

16 Sep 2011

” Bahkan seorang Gayus Tambunanpun masih punya penghasilan halal. Sekecil apapun persentasenya. Tetapi tidak dengan seseorang yang menjadi PNS dengan cara menyuap”.

Mungkin judul dan penggalan kalimat di atas terasa berlebihan. Tetapi sebenarnya saya tidak bermaksud untuk melakukan justifikasi secara sepihak tanpa fakta.

Bagi saya memang terasa demikian. Penerimaan PNS adalah salah satu jalan tol menuju neraka buat berbagai pihak. Tentunya hanya saya tujukan bagi sistem penerimaan PNS yang diwarnai KKN. Ini umumnya terjadi pada penerimaan PNS di daerah. Untuk penerimaan PNS di Pemerintah Pusat umumnya relatif lebih fair. Apalagi yang rekruitmen pegawainya dilakukan melalui jalur sekolah kedinasan. Berdasarkan pengalaman ini merupakan jalur penerimaan PNS paling bersih.

Lalu apa pengalaman pribadi yang pernah saya alami sehingga saya berani mengambil kesimpulan?

Ini beberapa di antaranya yang bisa saya sebutkan.

1. Sekitar tahun 90′an. Saya punya tetangga yang berprofesi sebagai pedagang. Selepas anaknya lulus SMA dia mendaftarkan anaknya untuk menjadi anggota p*l*s*. Dan akhirnya anaknya diterima. Sehabis itu tanpa malu-malu dia cerita bahwa dia menghabiskan uang sebesar 30 juta agar anaknya lolos tes. Saya menilai dia cenderung bangga mengeluarkan uang itu dan bukannya merasa malu.

2. Adik-adik saya mendapat info bahwa mereka harus membayar 125 juta agar bisa lolos tes PNS. Tentu saja ibu saya langsung menolak. Menurut beliau uang sebesar itu lebih baik untuk membuka usaha baru. Di samping tidak menjadi beban buat negara, membuka usaha baru malahan akan membuka lapangan pekerjaan.

3. Pengalaman saya yang juga dialami oleh teman saya. Kami berdua pernah memberikan nasehat kepada famili kami yang bermaksud memasukkan anaknya menjadi PNS dengan cara menyuap. Dan kami berdua sama-sama gagal meyakinkan mereka (Atau sudah tahu tetapi mereka tetap nekad ya?).

Teman saya ini mendapat jawaban demikian dari familinya;

“Saya khawatir anak saya nggak bisa menggarap sawah dan nantinya malah habis terjual. Makanya mendingan sawah itu saya jual buat bayar anak saya jadi anggota p*l*s*. Masa depannya jelas”. Dia mengeluarkan uang sebesar 70 juta.

Sedangkan untuk kasus famili saya kelanjutannya saya tidak tahu. Tetapi yang jelas sekarang anaknya sudah jadi PNS.

4. Yang bersangkutan sendiri yang membeberkan bahwa dia membayar 250 juta agar anaknya lolos tes Akp*l. Dia sempat mengajak salah satu temannya tetapi ditolak karena terlalu mahal (Kemahalan lho. Bukan takut dosa). Saya tidak tahu apakah uang ini yang membuat dia lolos atau dia hanya menjadi korban penipuan saja. Karena saya punya beberapa teman yang lolos tes tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Tapi pada kenyataannya memang anak tetangga saya itu sekarang sudah menjadi seorang perwira.

Masih banyak cerita lain yang berseliweran dan saya yakin sebagian besar dari Anda juga pernah mendengar atau bahkan mengalaminya sendiri (Dan mungkin bisa membagi pengalamannya di sini).

Jadi kalau demikian apa yang dapat kita harapkan dari mereka-mereka yang menjadi PNS dengan jalan demikian. PNS yang masuk berdasarkan perhitungan dagang. Tanam modal dan berharap memetik keuntungan nantinya. Melalui perhitungan kasar, seorang PNS baru akan balik modal setelah bekerja selama beberapa tahun. Dan sebagai orang PNS yang berpikiran pedagang tentu saja dia akan berusaha secepat mungkin meraup keuntungan.

Caranya ? Ya tentu dengan mencari penghasilan tambahan. Ada yang mencari penghasilan ilegal dan ada yang membuka usaha di luar. Tapi perlu dicatat bahwa menjalankan kegiatan usaha sampai mengorbankan jam kantor juga merupakan salah satu bentuk korupsi. Yaitu korupsi waktu.

Seorang PNS yang masuk dengan cara murni menyuap, sebagai seorang muslim saya ibaratkan bagaikan membuat bakso dengan daging babi. Dimakan baksonya haram. Dijual uangnya juga haram. Semua yang dihasilkannya akan menjadi uang haram (saya tidak bisa membuat pengibaratan untuk penganut agama lain. Silahkan membuat pengibaratan sendiri-sendiri.).

Begitu juga PNS yang masuk dengan cara menyuap. Gaji yang seharusnya halalpun menjadi haram. Apalagi kalau sampai dia melakukan korupsi. Bahasa gaulnya haram kuadrat !

Mengapa demikian ?

Itu karena gaji dan penghasilan dia terima seharusnya menjadi hak orang lain. Hak orang-orang yang seharusnya lolos tetapi akhirnya gagal karena tidak mampu atau tidak mau membayar. Orang yang seharusnya mampu membawa negara ini ke arah yang lebih baik dengan kemampuan mereka.

Jadi sebagai teman saya mengajak diri saya sendiri khususnya dan pembaca sekalian. Ingatkanlah apabila ada keluarga, saudara atau teman agar menghindari menghalalkan segala cara hanya karena ingin manjadi PNS. Rejeki Allah yang halal terhampar di seluruh permukaan bumi. Tak satupun mahluk tercipta tanpa Dia menjamin rejekinya

Oleh karena itulah saya berpendapat bahwa moratorium penerimaan PNS sedikit banyak sama halnya dengan menutup sebagian pintu neraka. Menutup salah satu sumber KKN yang paling nyata, menutup peluang para oknum pejabat yang menjadi panitia seleksi bermain, menutup peluang seseorang yang berpotensi mendapatkan penghasilan tidak halal seumur hidupnya, memutus lingkaran setan korupsi, dan lain-lain. Walaupun tujuan utama yang sebenarnya adalah menyehatkan keuangan negara.

Moratorium penerimaan PNS memang layak dilakukan dengan beberapa pengecualian. Lebih lama lebih baik. Sampai ditemukan suatu sistem penerimaan PNS yang fair. Baik dari segi kebutuhan maupun teknis rekruitmennya.

Saya tekankan bahwa memang tidak semua rekruitmen PNS seperti ini. Tetapi saya tidak tahu berapa persentasenya.

Bagi PNS yang memang menjadi PNS sesuai dengan haknya, saya sampaikan salam hormat saya.

Ini hanyalah pendapat saya secara pribadi.

Wallahu ‘Alam Bishawab.

Blog saya:wonosobokemekelen


TAGS moratorium pns


Comment
  • libok 2 years ago

    kata-kata yg patut di renungkan buat temen2 pns..

    PNS yang masuk dengan cara menyuap. Gaji yang seharusnya halalpun menjadi haram. Apalagi kalau melakukan korupsi. Bahasa gaulnya haram kuadrat ! Mengapa demikian ?

    karena gaji dan penghasilan dia terima seharusnya menjadi hak orang lain. Hak orang-orang yang seharusnya lolos tetapi akhirnya gagal karena tidak mampu atau tidak mau membayar. Orang yang seharusnya mampu membawa negara ini ke arah yang lebih baik dengan kemampuan mereka.

  • randit 3 years ago

    pegalaman ane 3 tahun berjuang mewujudkan cita2 pengen ngambdi pada negara malalui militer, dari au, ad, al dari perwira caba tamtama ane lakui, berkorban waktu untuk menunggu, berlatih fisik berlatih psikologi, ane selalu yakin kalau masih ada harapan bawah tapa suap bisa. Tapi ternyata rasannya menyakitkan nilai lari hilang ntah kemana dr ane yang dapet 7 putaran lebih ditulis 6, dari jas mani ane yang alahamdulillah sehat bisa kalah sama orang yang matanya minus, farikokel. Suguh rasanya menyakitkan dijajan bangsa sendiri, pedih rasanya. jujur saja ane blm ikhlas kalah sama orang2 yang penyakitan yang hanya menang pake duit, dan menurut pendapat ane uang gajinya juga haram karena. Sebenernya itu bukan hak dia, seperti orang yang seluruh badanya kotor. Ketika masuk rumah, rumah itu jadi kotor. jadi dari awal yang jelek. Dan cara yang jelek hasilnya pun akan jelek. Mudah2an masih ada keadilan dinegeri ini amin. Maaf kalau ada salah kata wasalam

  • Abdullah 3 years ago

    Assalamualaikum…

    Assalamualaikum.. Maaf kita tidak sependapat kalau mengatakan bahwa orang yang bekerja dengan cara suap kemudian berimbas kepada gajinya juga haram hal seperti ini tidak bisa di qiyaskan dengan kisah bakso Babi yang di makan.
    Saya akan berikan ilustrasi berdasarkan cerita dibawah ini:
    Saya berencana mencari seorang buruh bangunan yang dipekerjakan untuk pembangunan rumah baru saya, untuk mencari seorang buruh tersebut saya meminta bantuan kepada teman saya bernama Budi, kepada Budi saya katakan bahwa buruh tersebut harus memiliki sertifikat pengalaman kerja. Jadi Budi lah yang bertugas mencari buruh tersebut berdasarkan kriteria yang saya minta. Selang beberapa hari akhirnya Budi menemukan buruh yang saya minta dan buruh itu pun sudah mulai bekerja. Pekerjaan buruh tersebut sangat bagus, dia sangat amanah, dia pekerja keras, pekerjaannya tepat waktu, rumah baru saya telah selesai di bangun, saya sungguh sangat puas. Saya merasa tidak sia-sia menentukan kriteria dengan mensyaratkan buruh tersebut harus memiliki sertifikat pengalaman kerja. Pekerjaan telah selesai sekarang saatnya saya memberi upah kepada buruh tersebut atas pekerjaan bagusnya kepada saya, sungguh saya sangat salut dengan pekerjaan buruh ini, belum pernah saya menemukan seorang buruh yang pekerjaannya sebagus ini. Satu jam setelah saya memberikan upah kepada Buruh tesebut Budi datang kerumah saya dengan meminta maaf kepada saya, dia telah jujur kepada saya dengan mengatakan bahwa buruh tersebut telah menyogok dirinya waktu akan diperkerjakan kepada saya, buruh tersebut ternyata tidak memiliki sertifikat pengalaman kerja. Dia menyogok budi dengan memberikan uang 100 rb agar dia bisa bekerja dengan saya tanpa sertifikat. Akibat pengakuan ini saya marah kepada Budi, kenapa dia telah membohongi saya.
    Sekarang pertanyaannya?
    1.Pantaskah kita mengatakan upah yang diterima buruh tersebut haram??sedangkan dia telah bekerja dengan baik, walaupun dia telah menipu saya.
    2. Kalau Upah itu memang haram diterima buruh tersebut, lalu apakah saya akan mengambil kembali upah yang saya telah berikan kepada buruh tersebut, karena dia telah menipu saya dengan menyogok Budi?Wah berarti enak donk, gratis upah pembangunan rumah saya, tidak keluar satu persenpun upah uang saya, untung saja dia telah menipu saya.
    Coba dikaji dan renungkan baik-baik ilustrasi saya di atas, untuk permasalahan menyogok untuk mendapatkan pekerjaan ini, semua ulama setuju kalau menyogok untuk merugikan orang lain itu itu hukumnya haram. Tetapi tidak semuanya setuju dengan pendapat yang menkait-kaitkan menyogok dengan gaji yang diterimanya saat bekerja. Gaji yang dia terima adalah hasil keringatnya karena bekerja, sedangkan sogok yang dia lakukan tidak ada keterkaitan antara gaji, namun dia telah berdosa karena menyogok.
    Saya ingin bertanya lagi.
    1. Apakah segala sesuatu yang cara mendapatkannya terlarang termasuk disini mencari pekerjaaan lalu gaji yang diterimanya juga terlarang, mana dalilnya??
    2. Saya kemarin pergi ngaji dengan cara menerobos lampu merah?lalu apakah saya haram ngaji?
    3. Saya kemarin minjam duit dibank dengan cara kredit bunga? lalu apakah haram duit saya?bukankah kredit dengan bunga tersebut dilarang dalam islam?
    4. Saya dulu tiap pergi kuliah selalu memakai uang haram untuk mengisi bensin motor saya, hingga dengan motor tersebut saya bisa sampai ditempat kuliah, hingga akhirnya saya kuliah, hingga akhirnya saya bisa dapat ijazah? lalu apakah haram ijazah saya, bukankah saya untuk pergi kuliah tersebut dahulu dengan cara haram dengan memakai uang haram untuk membeli bensin??bukankah disana ada sebab akibatnya??
    5. Saya dulu ujian dengan menggunakan pensil yang dicuri hingga karena menggunakan pensil tersebut saya bisa ujian lalu saya lulus?apakah haram juga saya lulus, bukankah dulu saya dengan menggunakan pensil yang haram, bukankah cara seperti itu dengan cara haram, bukankah disini ada sebab akibatnya??karena memakai pensil tersebut dia lulus, coba tak ada pensil kan gak lulus, ada baiknya Bapak belajar belajar ushul fiqih dulu baru bisa berkomentar seperti ini.
    Wallahu alam bishawab.

  • Jelita 5 years ago

    Saya sendiri sampai detik ini masih belum bisa terima kalau saya sudah jadi CPNS (tanpa uang sepeserpun), tinggal beberapa minggu lagi menunggu prajabatan dilaksanakan, saya tidak tertarik sama sekali menjadi PNS yang saya jalani sekarang adalah keinginan orangtua yang kekeuh saya jadi PNS bahkan cenderung memaksa, padahal saya lebih nyaman menjadi seorang IRT dan membantu usaha suami (suami lebih senang jika saya berada di rumah fokus terhadap keluarga), saya tidak mengerti dengan cara berpikir orangtua saya, kalau saya sampaikan keinginan saya untuk menolak jadi PNS, mereka marah besar sampai berkata boleh kamu berhenti jadi PNS tapi hubungan kita sebagai anak dan orangtua putus, kolot sekali kan cara berpikirnya, seakan-akan mencari makan hanya lewat PNS, sampai ingin rasanya melawan terhadap mereka, saya kan sudah berkeluarga sudah tidak layak lagi orangtua mencampuri kehidupan anaknya, seringkali saya menangis menjalani sesuatu yang bertolak belakang dengan hati nurani karena saya masih belum bahkan tidak bisa menerima dengan sistem PNS ini mulai dari SPPD fiktif, situasi kerja yang lebih banyak isinya membicarakan orang lain, pokoknya bukan keinginan saya ingin jadi PNS, ntahlah saya mesti gimana lagi menghadapi orangtua yang egois ini, sungguh menyebalkan menjalani hidup demi mewujudkan mimpi orang lain…

  • pandora bracelet 5 years ago

    Wow, incredible blog format! How long have you been running a blog for? you make running a blog glance easy. The whole glance of your site is excellent, as smartly as the content!

  • yuli 6 years ago

    mantap…. masalah PNS memang seperti racun manis, orang berlomba2 mendapatkanya, padahal kalau sudah didapat mereka akan terbunuh.
    kalau jadi PNS meskipun masuknya jujur, trus ga korupsi, harus hati2 dalam membuat skala prioritas antara bekerja dengan baik dan mengejar golongan.
    Hal lain yang harus diperhatikan lagi adalah PNS sering lupa bahwa rezeki itu dari Alloh, bukan dari bendahara.

  • Adityo Dimas 6 years ago

    ya…kalo sudah begini berarti negara ini (PEGAWAI-nya / PEKERJANYA) sebenarnya kebanyakan / pada kenyataannya banyak dipenuhi dengan orang2x yang pada gak takut dosa… bukan-kah di kitab suci / firman Allah sudah jelas… Dan barang siapa yang terlibat dalam suap (Menerima Suap / memberi suap) maka Termasuk dalam golongan-nya orang yang berbuat keji dan Mungkar.

    maka tunggulah azab-NYA dalam waktu dekat …Artinya kalo ada Gempa Bumi Dan Gunung Meletus Secara Bertubi - tubi… ya… jangan Kaget :))

  • Antareja Sanggabuana 6 years ago

    FYI….remunerasi PNS saat ini sangat menggiurkan, bahkan untuk beberapa Kementerian strategis gaji per bulannya untuk yang baru masuk sangat besar. Yang lebih enak lagi, pensiunan PNS gaji nya tiap tahun bisa memingkat, tergantung kebijakan pemerintah. Untuk skill, saya sendiri optimis, beberapa sahabat saya yg jadi PNS skill nya tidak diragukan, bahkan beberapa lulusan terbaik sekolah saya saat ini jadi PNS. Mudah-mudahan ke depan ada perbaikan, tidak ada salahnya bukan bersikap optimis…..Merdeka….

  • wong bodo 6 years ago

    yang di bicarakan sang penulis hanya dilihat dari satu sisi, ibarat cermin sang penulis hanya melihat dari sisi yg tidak bisa merefleksikan gambaran sesungguhnya (dibelakang cermin), tapi kalo melihat dari cermin yg sebaliknya (dimana dibagian inilah orang harus bercermin) mungkin ceritanya akan lain lagi ada keseimbangan disini. akan saya tekankan untuk golongan akar rumput pada pns mungkin terjadi demikian berapa persenkah? 10 20 30 40 atau 100% kah? jawabnya tidak tahu! tapi saat ini 2010 dst coba anda lihat bagaimana penerimaan pns di setiap departemen berlangsung.masa lalu menjadi pengalaman, hari ini harus lebih baik dari kemarin. masa depan mari kita sambut bersama..

  • ian 6 years ago

    salam kenal.kebetulan saya juga pns yang lolos dari jalur murni, hampir satu angkatan saya lolos dengan murni, itu secara fisik dapat dilihat dari rata-rata yang keterima adalah berasal dari keluarga sederhana akan tetapi lulus dari PTN terkemuka dengan back ground nilai relatif tinggi.tapi anehnya setelah masuk kerja, rekan rekan senior tidak ada yang percaya kami lolos murni,kami tidak menanggapinya.

    kondisi politik lah yang membuat orang tidak mau berwiraswasta, kebetulan ane dari keluarga petani, gimana mau jd petani jika biaya menanam lebih mahal dari harga jual panen.ini semua terjadi karena tidak ada subsidi dan proteksi dari pemerintah.masih mending era pertanian jaman suharto.
    kebertulan istri ane pegawai bank, dia sering cerita susahnya para pengusaha kecil untuk mendapat kredit, karena ketatnya peraturan bank. Ada kejadiAN Ironis, nasabah istri ane mengajukan kredit dengan dalih untuk usaha, ternyata rencananya dipake buat memasukkan anakanya ke k*J*K*A*N. akhirnya pinjam ke bank lain dan kebetulan saja setelah itu anaknya lolos CPNS.
    dengan kondisi seperti itu, maaf aja sudah muncul stigma di daerah ane, daripda buat modal usaha, mending duit mereka buat nyogok masuk P*l*s*, T*n*T*R*, J*K*S*, H*K*M dan beberapa institusi lainnya, anehnya justru institusi-institusi yang kaitannya dengan penegakan hukum, proses sogok menyogok penerimaan CPNS malah keliatan transparan banget

  • Roli 6 years ago

    Istri saya lulus PNS karena “kebetulan”… Kebetulan kabupaten tempatnya mendaftar sedang bakal ada pilkada tahun itu… Kabar yang beredar, calon incumbent benar-benar melepas “apa adanya” proses rekrutmen PNS daerah untuk mendapat simpati masyarakat luas supaya memuluskan jalannya memenangi pilkada… Maksudnya supaya orang kebanyakan melihat bahwa memang tidak ada intervensi pihak-pihak tertentu dalam hal kelulusan peserta… Walhasil, “banyak” sekali yang lulus tanpa persekot atau semacamnya untuk yang diterima menjadi PNS tahun itu… Entahlah tahun berikutnya… :))

  • PNS 6 years ago

    Saat ini status saya ialah seorang PNS di salah satu kementerian di Jakarta, sebelumnya saya bekerja di swasta namun ketika status kontrak yang tidak kunjung berubah saya memutuskan untuk mencoba ikut test CPNS, terus terang sejak baru masuk hingga sekarang saya muak dengan keadaan PNS di Indonesia yang di otaknya cuma duit melulu, kalo ga Perjalana Dinas & Honor Tim ya Mark Up dana proyek supaya dapet penghasilan tambahan

    ya memang sih jujur aja penghasilan resmi yg diatur undang2 tuh ga masuk akal menurut saya, terutama di kementerian saya, masuk sini saringannya sangat ketat 90% dari universitas negeri terkemuka dengan IPK diatas 3,00 kalau saja mereka diberdayakan dengan sebaik mungkin dan diberi reward yg setimpal saya yakin mereka akan bekerja dengan maksimal krn idealny di negara maju seorang Government Official sudah tidak dipusingkan lagi dengan pemasukan2 tambahan dikarenakan pendapatan yg terlampau kecil (kalau menurut undang2 tidak ada perbedaan gaji mereka dengan gaji PNS lainnya yg ndableg dengan kualitas abal2), Negara Korup identik dengan gaji Government Official yg tidak setara dengan kualifikasinya, contoh: India, Indonesia, etc

    Akhirnya terjadilah simbiosis mutualisme, yang senior karena otaknya udah kotor ngajarin yang bukan2 kepada junior yg setiap hari didoktrin bahwa itu bukan korupsi cuma metode pengelolaan anggaran saja demi kesejahteraan bersama, double accounting dan macam macam lah

    si junior karena merasa gaji nya kecil buanget dibanding temen2nya yg kerja di swasta (pastinya dengan kualifikasi yg mirip) maka lambat laun menyetujui doktrin dari senior dalam hal kesejahteraan bersama dan menganggap hal itu menjadi sesuatu yg tidak terlarang dan kadang bisa memunculkan metode metode baru dan canggih dalam pelaksanaan korupsi (mengingat anak2 baru itu high qualified), dengan begitu baik si senior maupun junior menjadi balance dalam comfort zone masing-masing, anda bisa ingat gayus itu lulusan STAN loh dan atasan2nya lulusan luar negeri. . .

    TAPI saya tidak LARI dari keadaan itu, menurut saya siapa yang mau merubah bangsa ini kalau bukan rakyatnya sendiri, sudah 2 tahun ini saya tergabung dalam anggota Tim Reformasi Birokrasi di instansi saya, dari masalah yg telah diinventarisir memang ini pekerjaan berat, namun sebuah perubahan harus dimulai dengan satu langkah, langkah yang akan menuntun Indonesia menuju negeri yg lebih baik

    Saat ini kebetulan saya diberi kesempatan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di negeri tetangga, besar harapan saya ketika kembali nanti masih diberi kesempatan dalam upaya mendorong tercapainya reformasi birokrasi ini, untuk itu saya mohon doa dari teman2 sekalian, mudah2an niat baik ini juga didengar oleh Allah SWT

    Amin

  • andi 6 years ago

    Kalau undang2 pembuktian tebalik diberlakukan di Indonesia, ada kiamat kecil di birokrat Indonesia, sebagai bukti aja masa iya Gayus yang baru beberapa tahun bekerja sudah memiliki kekayaan milyaran.
    Kalau dihitung Gayus dengan gol III.a dengan gaji Rp 12 juta/bln berarti 1 tahun Rp.144 juta itu kalau selama setahun tsb puasa untuk membeli segala sesuatunya termasuk beli pasta gigi.
    Tapi kasihan para penegak hukum tidak mengejar kearah sana.

  • bonds 6 years ago

    Ooooo…pantesan negara ini gak maju dengan pesat karena ada penyakit kanker yg menggerogotinya dari dalam, apa bisa sembuh ni penyakit dalam seperti ini? sepertinya penyakit dalam yang kronis. Padahal jika dilihat dari segi sumber daya alamnya negara ini bisa menjadi negara yang makmur dan masyarakatnya jauh dari kemiskinan. Kasian…kasian…kasian…!!!

  • maskuri 6 years ago

    PNS = Pegawai Nongkrong Seharian, itu kata temanku yg jadi PNS di salah satu instansi pemerintahan. Kenapa? tentu para PNS-PNS yg lebih tahu..

  • No Name 6 years ago

    Kalau misalnya, ada seorang yg masuk PNS murni tanpa duit. Tapi waktu tes, dia contek2an sm temennya. Itu kan sama aja dia bohong, krn nyontek. menurut Anda gmn Pak?gajinya halal atau haram?

  • ariwan 6 years ago

    Beginilah jadinya bila munusia tidak tahu asal dan tujuan hidup dunia, sehingga dunia itu sendiri yang menjadi tujuan akhirnyan banyak yang mengaku agama islam tapi pelanggar utama syariat islam itu sendiri. dalam islam hukum ” yang menyuap dan yang disuap itu sama-sama haram dan ancamannya neraka” tapi justru banyak yang merasa bangga dengan hal itu. jika sudah demikian kondisinya ya.. kita do’akan saja semoga meraka kembali kembali kejalan yang benar. dan kita siap2 untuk menerima murka Allah swt atas kemaksiatan kita.

  • tri prasetyo 6 years ago

    untung saya idealis… mudah2an saya tidak pernah menjilat ludah saya sendiri untuk menjadi seorang PNS…

  • siyamadi 6 years ago

    makanya kebanyakan PNS sekarang ini SKILL nya jeblok…….akhirnya birokrasi ujung-ujungnya duit………

  • mulyani 6 years ago

    calo/jasa pengurusan sim / STNK dll ada gunanya juga bagi yang sempit waktu , krn kadang kala ngurusny itu cukup jelimet kadangkala juga minta tambah uang , yang penting syarat2 lainnya sdh sesuai aturan yang ada , dan tidak melanggar aturan yang ada , shg dpt memberi lapangan kerja bagi yng berprofesi jasa pengurusan

  • benk 6 years ago

    saya keterima PNSD tahun 2008, saya tinggal di kota tetangga daerah tersebut..jadi tidak seorangpun pejabat bahkan birokrat di daerah itu saya kenal sebelumnya..alm. bapak saya TNI jadi ndak mewariskan harta yang cukup banyak untuk bisa dipakai jadi pelicin masuk PNS..dari 163 saingan saya di formasi ini cuma satu yang dibutuhkan dan alhamdulillah itu saya..
    perlu diketahui, itu untuk pertama kalinya saya ikutan daftar jadi CPNS, karena sebelumnya ndak pernah tertarik (karena alasan pake uang puluhan juta..dsb)..tetapi setelah beberapa teman saya keterima PNS dengan murni (2005 hingga 2007)..saya pikir, kenapa ndak saya coba..
    akhirnya, saya jalani pekerjaan ini sekarang dengan full enjoy..bisa ku tolak dengan sangat halus, beberapa oknum yang mengucapkan terima kasihnya karena kubantu pekerjaannya dengan memberikan amplop..
    untuk THR, setiap menjelang lebaran bendahara di kantor selalu memberi uang yang katanya untuk beli sirop..atas pengetahuan saya ttg agama yang masih terbatas (bisa kita diskusikan) kuterima saja uang itu..

  • wong tuwo 6 years ago

    Nimbrung,
    Saya sebagai orang tua, yang sudah pensiun juga sangat sedih atas perilaku orang2 dinas kepegawaian atau badan kepegawaian daerah. Dua tahun yang lalu anak saya lulus S1 perguruan tinggi Negeri. Anak saya banyak mengisi lamaran di bursa2 kerja, internet ataupun langsung ke BUMN/ Instansi2 pemerintahan. Anehnya…., 4 s/d 7 hari setelah melamar, ada beberapa telepon yang menelepon kerumah, mereka menawari kami bahwa anak kami bisa pasti diterima kalau mau bayar 250 juta. Astaghfirulloh, saya kaget bukan main. Saya katakan kepada anak saya, bahwa saya sebagai ortu tidak akan mau bayar sogokan agar anak diterima kerja. Saya katakan, Alloh tidak akan menutup kesempatan kalau kitanya selalu dekat denganNya. 8 bulan anak saya nganggur dirumah sambil terus memasukkan lamaran2. Alhamdulillah anak saya diterima dan sudah bekerja menjadi pegawai tetap di Bank Pemerintah.
    Alloh membukakan jalan bagi insan yang selalu dekat denganNya.

  • Abdulloh 6 years ago

    Saya rasa ada banyak hal yang harus dibenahi negeri ini agar bisa lebih baik di kemudian hari.

  • abi 6 years ago

    korupsi sudah membudaya, potong dua generasi paling atas………..

  • andi 6 years ago

    Alhamdullilah saya jadi tenaga pengajar denga tidak menngeluarkan satu sen pun. tapi linngkungan kita memang aneh, dari swasta sy coba jd pns. di swasta gaji lumayan dan sering ditawarin persenan oleh klient tapi sy tolak. pas di pns gaji kecil tapi cukup eh lingkungan yang selalu minta ini dan itu buat ngerjain tugas yang seharusnya tugas dia aneeh, saya sering protes… tapi malah dimusuhi… aneeh. tp insyaAllah sy coba konsisten.
    salam buat mas-mas ya.. oh ya bole copy ceritanya ya ma buat adik2 saya biar dia tidak tergiur jd pns mending wiraswasta. terimaksih

  • Supriadi 6 years ago

    Tulisan yang menarik, mungkin yang akan saya ceritakan agak melenceng sedikit…dulu sewaktu mendapatkan SIM C saya memang menggunakan jasa orang dalam (tidak ikut tes) waktu itu saya berpikir agar cepat dalam proses karena saya pegawai swasta yang kerjanya sering keluar kota. Saya takut hari itu (sabtu) tidak lulus apalagi antriannya sangat panjang maka akan lama lagi untuk proses pembuatannya. Begitupun ketika mendapatkan SIM A. Tapi akhir2 ini saya punya punya keinginan untuk mengurus SIM lagi dari awal tanpa orang dalam lagi. Semoga niatan saya ini dapat menutup sebagian lubang neraka yang terbuka. Terima kasih sudah mengingatkan.

  • femmy 6 years ago

    tulisannya bagus, suka sama kata-kata “jalur penerimaan PNS yang paling bersih melalui jalur sekolah kedinasan”.

    saya mau share artikel ini, tp ko gk bisa di share yaa..

  • Gombol 6 years ago

    Begitulah Kenyataan yang sebenarnya, saya yang baru lulus PNS merasa cukup tertekan dengan keadaan demikian. Pernah seorang senior bertanya kepada saya, “Berapa Jumlah uang yang kamu keluarkan untuk masuk jadi PNS”. Mendengar pertanyaan demikian, saya sendiri kebingungan untuk meyakinkan orang lain bahwa saya benar-benar lulus secara murni tanpa bantuan siapapun ataupun uang sepeserpun yang digunakan untuk menyuap agar saya lulus jadi PNS.
    Belum lagi lingkungan kerja yang sudah sangat sangat terkontaminasi. Mau tak mau, saya harus menyesuaikan diri dengan sistem dan budaya kerja yang sudah terbentuk agar saya tidak dikucilkan secara masiv dalam lingkungan kantor. Begitulah kenyataan bagi PNS yang lulus secara murni.
    Saya berharap dengan adanya Moratorium dan Reformasi Birokrasi dapat merubah mind setting PNS yang ada sekarang menuju ke arah yang lebih baik. Agar birokrasi di Republik ini menjadi Birokrasi yang bersih, transparan dan akuntabel.

  • Bayu RA 6 years ago

    DIALOG KESEHARIAN KITA2:

    A: Eh, mau ada lowongan PNS tuh di Kemenag/Depag
    B: Gajinya berapa sih kalo PNS di Kemenag?
    A: Kecil katanya, tapi sabetannya bo’!
    B: Sabetan itu apa (pura2 gak tau)
    A: Itu tuh, maen proyek, jadi kalo ada proyek pengadaan barang atau event2 kita pasti dapet uang dari mark up anggaran proyek itu..
    B: Oh, itu toh, tp itu legal gak?
    A: Ah udah jgn mikirin itu, lha wong yang laen2 juga pada begitu kok.. udah kita ikutin aja. Lagian kan praktek ini udah lazim..
    B: Padahal kan kalo mark up anggaran dan sunat sana sini itu melanggar UU antikorupsi?
    A: Ah, sok suci kau.. jaman sekarang kalo gak maen proyek mana bisa hidup jadi PNS jujur..
    B: Oh gitu ya.. ya udah lo makan dosa2 sendiri kalo lo percaya sama agama percuma lo ngaji dan sholat.. Agama cuma buat ritual aja, kelakuan tetap iblis..!!
    A: ???!!! (jiaahh kok die sewot)

  • ahmad fadhli 6 years ago

    wehehehe…ternyata aku nggak sendiri, masih ada yang sepikiran dengan ku!! ^_^

    pengalaman ku malah lebih menyedihkan, aku pernah kerja di dinas pemuda dan olah raga di sebuah daerah yang malah diklaim menjunjung tinggi syariat islam. selama masa kerja aku sering disuru sama bos untuk membuat surat surat fiktif, seperti surat perjalanan dinas palsu, atau kontrak kontrak fiktif untuk kepentingan para petinggi di kantor saya. saya merasa kurang nyaman dan akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan, padahal bos saya sudah mengiming2ngi saya akan diangkat jadi pegawai melalui jalan pemutihan.

    yang membuat saya sangat sedih bukannya karena pekerjaan yang tidak benar atau karena saya melepaskan kesempatan jadi PNS. Tapi yang paling membuat saya kecewa adalah orang2 disekeliling saya, orang2 di kampung saya mengejek saya “BODOH” karena saya memutuskan untuk keluar dari lingkaran setan itu. saya dibilang malas, nggak mau kerja, tolol, buang kesempatan, dan lain lain yang bikin telinga merah dengernya. mereka mengatakan itu dengan dalil mereka sendiri “yang haram aja susah apa lagi yang halal”.

    wal hasil saya pengangguran sekarang, tapi saya lebih bangga dengan keadaan sekarang ini daripada waktu masih bekerja di dinas itu dulu!!!… ^_^

  • Bayu RA 6 years ago

    Penerimaan PNS itu memang sudah menjadi rahasia umum bagi yang mau masuk harus pake duit. Sebabnya kenapa?

    1. Panitia pelaksana penerimaan PNS akan menyetor ke atasan setiap dana yang masuk
    2. Keluarga panitia PNS sedang ada rencana mau beli mobil, pergi haji, umroh,dll
    3. Keluarga panitia PNS anaknya akan masuk sekolah jadi butuh biaya besar
    4. Pejabat yang berwenang bagaimana mau membasmi KKN, lha pejabatnya aja waktu masuknya juga nyogok.

    Saya piir INDONESIA tidak diridhoi oleh-Nya menjadi negeri yang makmur Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kerta Raharja, karena ya gitu, banyak orang munafik di sini. Lain waktu berbondong2 sholat jumat bareng, pake baju koko, kadang sering mengeluarkan asma Allah, tapi kelakuan tetep maen proyek sana sini, embat sana embat sini. Pakai uang APBN lagi..

    Lihat saja, nama dan kelakuan gak selalu sama, harapan orang tua bahwa diberikan nama depan Muhammad agar kelakuan baik, eh dipanggil 3x KPK Muhammad Nazaruddin kabur ke berbagai negara. Ada lagi nama cucu nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husin yang dipakai oleh nama staff MK, Mashuri Hasan dan satu lagi *** Husein. Tapi kelakuan tetep aja manipulatif dan cari gara2..

    Thanks mas atas ulasan dan tulisannya..

  • Gentara 6 years ago

    Insya Allah bulan ini saya lulus dari perkuliahan S1, artikel ini semakin menguatkan saya bahwa PNS bukan satu-satunya tujuan utama setelah lulus walaupin banyak orang yang menginginkan supaya masuk jadi PNS.. terkadang orang hanya melihat dari Korupsi para “ikan kecil” atau “ikan besar” dari hasilnya, padahal masih banyak jenis korupsi lainnyaa, ex: korupsi waktu
    salam kenal dari seorang fresh graduate. ^^

  • akung kusumo 6 years ago

    pengalaman saya sendiri tahun 1976 masuk kerja di perbankan dengan test 3 hari berturutan, tanpa ada yang kenal dan tiada keluarga di lingkungan itu, dan saya juga sadar klo akhirnya saya mesti kalah posisi dengan mereka yang ber KKN, tapi saya nikmati saja karena saya masih punya saudara yang paling kaya dan amat kaya (yang tidak bisa habis hartanya dimakan siapapun sampai hari kiamat) yaitu Allah, klo memang sudah rejeki saya dari Allah pasti tidak akan tertukar. mksh

  • prayogi 6 years ago

    betul…. sekali mas. kalo sy critakan smua ttg para PNS yg masuk dengan berbagai cara gak akan hbs dalam seharian. pada dasarnya saya emank gak minat sama sekali buat jd PNS, dan kalo saya mau sudah dr dulu sy jd PNS, tp buat apa kita hidup hny mengandalkan dr negara dan makan dr pajak tmn2 masyarakat yg notabenenya mereka lebih teraniaya. kalo di kasih kesehatan jasmani lebih baik di kembangkan untuk berbuat yg lebih bermanfaat bagi orang laen dengan cara memanfaatkan uang yg seharusnya untuk menyogok para OKNUM pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja bagi tmn2 masyarakat yg ga pnya kerjaan.
    *alhamdulilah walopun sy gak jd PNS tp bs memperkerjaan 3 orang di usaha kecil2an saya.

  • Rizki 6 years ago

    Seharusnya sistem PNS dihapus, diganti dg sistem di swasta tanpa pensiun, kontrak per 2 thn dan UMR. Di negara yg lautan tenaga kerja melimpah pasti bisa dilakukan tanpa membuat bangkrut negara. Sistem reward dan punishment yg jelas dan target dan goal bagi pegawai harus jelas.

  • Junaedy 6 years ago

    Sudah bukan rahasia lagi kalo mau masuk PNS haruss bayar alias NYOGOK………..

  • jokos5758 6 years ago

    rejeki asalnya dari ALLAH.
    Allah memberikan rejeki kepada kita setiap saat, nggak dijadwal setiap tanggal 1.
    Allah memberi kita rejeki dengan jumlah yang bervariasi setiap harinya, tergantung kerja kita. nggak selalu harus sejuta sebulan atau 2 juta sebulan. Allah tidak pernah membatasi rejeki seseorang.

  • rie 6 years ago

    setuju moratorium, tapi adakan lapangan kerja yang buanyak biar gampang cari nafkah, biar bisa hdup layak , tdk harus jadi pns.
    bersihkan negara dari koruptor, mafia apa saja dll… yang bikin rusak negara , bikin dosa,
    mari kita bangun generasi baru yang pola pikirnya bersih. mulai dari diri kita sendiri dan anak kita . klo semua orang gitu kan yang namanya KKN dan temen2nya nanti hilang sendiri.
    biarkan yang sekarang lagi KKN nanti klo dah mati baru tau rasa kena siksa Yang Maha Kuasa.
    tapi sukur pada mau insyaf kembali kejalan yang benar biar cepat bersih republik ini.

    hidup indonesiaku, negeriku, republiku…..
    insyaallah satu generasi kedepan bisa bersih…. moga2 amien.

  • ADI 6 years ago

    tidak cm penerimaan PNS saja yg terjadi suap menyuap.. penerimaan pegawai BUMN, BI dll. Anak, paman, bapak, keponakan, ibu, kakak, adik bekerja di satu perusahaan BUMN. waktu kuliah Saya punya pengalaman magang 2 tahun di PT. Telkom, banyak pegawai yang bercerita bahwa mereka masuk kerja, melalui jalur koneksitas (keluarga) dr orang tua, kakak, paman, dll. Ketika bekerja mereka hanya santai2 aja, jam 9 pagi sudah tidak ada ditempat kebanyakan lagi nongkrong2 ditempat smoking area sambil menghisap sebatang rokok. Bahkan saya pernah berkunjung ke depnaker, ketika itu waktu menunjukan pukul 10 pagi, saya melihat banyak pegawainya yang berseragam sedang asyik bercengkrama, ngemil, merokok di KANTIN kantor. Dimana produktivitas mereka bekerja…? Mereka tidak menyadari bahwa mereka diberi rizki tiap bulan dr uang pajak rakyat… bahkan orang2 miskin membayar pajak untuk gaji mereka… Apakah mereka tidak punya kemaluan??? sebaiknya tidak usah ada MORATORIUM, Bubarkan saja PNS..

  • arieswan 6 years ago

    tulisan ini sebagai mengingatkan semua cukup bagus. untuk soal batal haram penghasilan yang diterima jadi ragu saja karena yang haq adalah haq yg batil adalah batil.mengambil haq org lain tanpa haq= “mencuri” jd hasil yg diperoleh tentu ?halam apa halal. …terserah.

  • akmalsyah 6 years ago

    Salam kenal mas, saya PNS Pusat yg sdh bekerja puluhan tahun. Komentar pertama saya adalah “anda betul”
    Ketika membaca, sy seakan bertemu teman yg seirama dan senada keprihatinannya.
    Saya adalah orang yg menghindari hal2 yg berbau korupsi sejak saya masuk kerja sehingga saya dikatergorikan pegawai tak berprestasi.
    Dulu saya berada di Biro Perencanaan sebagai pejabat Esl. IV, tapi ketika melakukan pembahasan program dan penganggaran, sy melihat kejanggalan2. Salah satunya adalah yg dikenal dgn “diplomasi WC” di DJA DEPKEU (saat itu) dimana ketika sedang dibahas kita hrs melihat dan membaca bahasa tubuh mereka. Lalu mereka jalan ke WC Selanjutnya Pimpro atau pejabat lembaga yang dibahas mengikuti dan menyerahkan amplop di WC tersebut.
    Melihat keadaan itu gairah kerja saya tiba2 saja menurun. Akhir cerita saya dipindahkan ke subbagian Arsip (di PNS adalah tempat pembuangan). Anehbnya saya bergairah dan berprestasi.

    Saya punya puisi yg saya tulis beberapa hari yang lalu.

    Kutukan
    (walau dalam Islam tidak dikenal)

    Saya heran.
    Disaat penumpasan korupsi gencar,
    Orang-orang tetap berlomba melakukan.
    Tak terhitung jumlah terpenjara karenanya. Tak jua jera
    Status eksekutif, legislatif, yudikatif, politikus, serta pengusaha diperoleh dengan segala cara.
    Bagai niaga mereka invetasikan harta harapannya kembali berlipat ganda.
    Tranparansi dan pengawasan publik yang massive tak menghalangi
    Bohong dan bohong lagi
    Entah dimana rasa malunya bersembunyi
    Setelah jadi terdakwa dan terpidana
    Mereka kembali membohongi
    Dengan sakit, minta dikasihani
    Dengan gunakan simbol agama, harap simpati

    Kadang timbul tanya.
    Apakah ini kutukan atau tanda akhir jaman.

    Jakarta, September 2011
    akmal_sy@yahoo.com

  • Nelman Tarigan 6 years ago

    PNS hampir identik dengan korupsi. Syukur masih ada anak bangsa yang masuk PNS dengan tidak suap. Budaya korupsi adalah budaya nenek moyang kita. Budaya korupsi adalah budaya nusantara. Kita sering menyalahkan belanda denga politik devide et impera, namun yang membuat kita dijajah adalah praktek/budaya korupsi yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Mungkin kita kecewa dengan pernyataan sy ini, karena tidak ada tercatat sama sekali di sejarah manapun bahwa nenek moyang kita adalah koruptor, apalagi sejarah yang ditulis oleh TNI. Yang ada hanyalah sejarah kepahlawanan. Ini adalah bentuk manipulasi, yaitu sekali lagi cikal bakal korupsi.. (hehehe). Kalau kita mau belajar dari catatan sejarah jaman dulu yg ditulis oleh pedagang, pengelana bukan ditulus oleh TNI (tni saja blum ada benihnya kalee), maka dengan sangat jelas mereka menggambarkan bahwa nenek moyang kita sangat bersifat koruktif. Ini terlihat dari deal-deal yang mereka buat dengan sultan-sultan di seantero nusantara ini. Jadi jangan heran, dari mana sifat koruktif ini kita miliki…Tentu saja dari nenek moyang kita. Hiks..sedih jadi orang Indonesia

  • Nelman Tarigan 6 years ago

    Setuja mas. Harusnya moratorium ini harus dilakukan puluhan tahun yg lalu. Mari kita lihat di sebagian besar instansi pemerintah. Beban kerja mereka tidak lebih dari 1/2 beban kerja karyawan swasta (not fair). Kemudian umumnya mereka masuk dengan uang sogok, artinya yg tidak punya uang dapat PNS jauh lebih sulit (not fair). PNS adalah pelayan masyarakat, artinya mereka menyediakan apa yg diperlukan oleh masyarakat. Dalam kenyataannya, para PNS inilah jadi raja, dan masyarakat yang jadi pelayan, karena kalau PNS tidak dilayani, maka urusan KTP, SIM, atau apapun tidak selesai (not fair). Menjadi PNS adalah menciptakan jalan ke neraka..setuja banget

  • amir 6 years ago

    nabi bersabda : allah melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap,,,, jd keduanya akan masuk neraka,,,dan hidupnya tidak akan barokah..

  • yan 6 years ago

    Tahun 1987 saya lolos seleksi sebagai PNS, Mas. Memang senang rasanya dapat masuk melalui seleksi yang normal. Sayangnya Mas, setiap kali saya ketemu teman atau orang tua teman satu sekolah dulu pertanyaan yang diajkan sama, “Berapa dananya kok dapat masuk..?” atau pertanyaan senada, “Mbok tolong Mas saya dikasih tahu jalannya..!!” Ktika saya jelaskan bahwa saya masih tanpa menggunakan uang sepeserpun, sungguh 100% mereka tidak percaya, bahkan ketika saya yakinkan persesntase ketidakyakinan mereka pun tidak berkurang…
    Heran saya waktu itu seakan-akan ada kesan “sesuatu yang normal bahkan dianggap tidak normal”

  • dudul 6 years ago

    Di kantor saya sempat menjadi perbincangan hangat nih mas tentang moratorium, menurut beliau-beliau dengan berhentinya penyetopan pns justru membuka peluang titip menitip semakin besar… tetapi ga tau juga sih… karena saya masih cpns :p

    oh iy OOT dikit… ga nyangka jadi PNS cukup kesiksa juga yah, saya masuk jam 8 pagi, pulang kerja kadang sampe jam 9 malem.. itupun jarang dikasih uang lembur, belon hari sabtu kadang disuruh ngantor…

  • Joko Purnomo 6 years ago

    apa iya jalan ke neraka cm lewat KKN PNS?pdhl tnpa kita sadari dlm hidup shari2 jg kita gk lepas dr budaya KKN atau berdosa..bahkan kita mengganggap kecil dosa/perbuatan kita itu sehingga menyebabkan kita menjadi terbiasa..misalnya berbohong,walaupun kecil tp klo bertumpuk2 jg byk,kdg kita mengganti kata bohong menjadi “alasan”..
    selain itu jg pasti msh byk yg lainnya,misalnya..pasti yg komen d atas saya byk yg bqn sim dgn memberi uang k polisi’a utk lolos test, saat dtilang polisi minta damai, nerobos lampu merah, membuka/menyebarkan aib keluarga,merugikan orang lain,melakukan hal2 yg berpotensi membuat sakit hati org lain walaupun tanpa kita sadari,dll..
    masalah KKN PNS itu terlalu besar,mulai saja dr hal2 yg kecil untuk merubah diri sendiri.. :)

  • dillah 6 years ago

    saya PNS, alhamdulillah lulus tanpa KKN. Saya setuju dg pernyataan2 diatas. Tp sepertinya ada ketidak adilan juga, kalo tes hanya menggantungkan pada kepandaian saja. Allah tidak menciptakan manusia sama cerdas baik IQ maupun EQ. Pun banyak pula yg kurang secara fisik, ekonomi, kesempatan sekolah, dll yg menghambat dia berkompetisi secara adil/normal dengan yang lain, baik dalam tes tersebut atau proses sebelumnya (belajar).

  • Toto 6 years ago

    Agar jadi pertimbangan generasi muda kita……………………..

    Ketika kita masuk PNS, artinya kita sendiri sudah membatasi rejeki kita sebesar gaji yang akan kita terima itu. Sama artinya dengan kita berdoa “Ya Allah, berilah saya rejeki sebesar “gaji yang akan di terima”. Artinya……, kita sudah “menolak” untuk KAYA.

    Kalau kita ber wiraswasta, kita siap menerima rejeki dari ALLAH SWT sebanyak mungkin, semaksimal mungkin, tidak ada batas. Tergantung usaha kita. Insyaallah.

  • Toto 6 years ago

    Saatnya merubah paradigma mas/mba. Negara kita masih kekurangan enterpreneur. Jadilah pengusaha (meski kecil), itu lebih baik karena akan menciptakan lapangan kerja. Pedagang warteg saja, penghasilannya lebih besar dari PNS koq. Betul ?

  • chesterzen27 6 years ago

    ijin mas ya saya share di forum tetangga….

  • pelita 6 years ago

    Apakah bisa dibilang jika praktek suap-menyuap sudah membudaya di masyarakat kita? Di lingkungan saya, banyak yang tidak setuju dengan praktek seperti itu, tetapi tidak sedikit juga yang menganggap bahwa itu adalah hal biasa.
    Jika diijinkan untuk berpesan, bagi anda PNS yang telah masuk secara legal, saya yakin anda bukan orang sembarangan, maka pertahankanlah integritas anda, karena saya cukup tahu bahwa tidak sedikit lembaga pemerintahan yang salah satu tujuannya hanya untuk menghabiskan uang anggaran.

  • Adi 6 years ago

    Bagus buat share ke teman2. Tp kok nggak ada tombol share-nya?

  • borjong 6 years ago

    Mas nya takut menulis POLISI dan AKPOL karena walau sudah di cap lembaga terkorup…POLISI setiap saat bisa menciduk warga yg terlalu Vokal…saya secara pribadi setuju Moratorium ( Penghentian ) penerimaan PNS juga POLISI…terlalu membebani rakyat dan APBN karena utang INDONESIA terbesar di Dunia…

  • wulan cik gu 6 years ago

    alhamdulillah saya lulus bersih

  • wineeng 6 years ago

    Yaps….! saya setuju dengan pendapat anda bung. PNS itu penuh dengan kemunafikan dan kebiadaban. PNS = PEMALAS dan PENJILAT….

  • Sigit 6 years ago

    Perlu dipikirkan bahwa penerimaan PNS yang buruk dan penuh KKN tidak hanya diakibatkan oleh oknum yang korup dan KKN, tetapi juga mengapa seorang PNS dapat menjadi korup. Penerimaan PNS yang penuh KKN tidak terlepas dari ’sistem’ penerimaan PNS yang penuh dengan lubang yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab. Moratorium penerimaan PNS bisa juga dianggap seperti memberikan obat pusing paracetamol ke seseorang yang menderita pusing yang diakibatkan oleh kanker otak. Pusingnya akan hilang, tetapi penyebabnya tidak dan dimasa mendatang akan muncul lagi.
    Satu-satunya cara untuk menghilangkan KKN dalam penerimaan PNS adalah merubah cara penerimaan PNS tersebut. Harus dihilangkan peluang seseorang dapat memanfaatkan sistem penerimaan PNS untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Salah satunya adalah menghilangkan faktor manusia dalam penerimaan PNS, atau sistem penerimaan PNS terpadu/online. Tentu saja hal ini bukan satu-satunya cara. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah perubahan sistem penerimaan PNS jauh lebih penting dibandingkan dengan moratorium penerimaan PNS.
    Demikian mas pendapat saya, mohon maaf jika salah

  • anak al azhar 6 years ago

    Kata Rasulullah Saw. : “Ar Rosyi Wa Murtasyi Fin Naar” artinya “Orang yang menyogok dan yang disogok kelak akan dimasukkan dalam di neraka”.

    Saya setuju dengan tulisan anda Mas Dayat.

  • juni 6 years ago

    Alhamdulillah saya juga ga mengeluarkan duit sepeserpun untuk jadi pns.

    Sekedar info, saya sangat dekat dengan Rektor dan WakilRektor2 di sini (sebuah PTN besar di jawa), beliau berdua mewanti2 saya untuk belajar2 sungguh menjelang ujian PNS (nasional) karena beliau tidak bisa mengusahakan apapun untuk lolos ujian itu.
    Kenyataan bahwa beliau2 tidak bisa membantu dibuktikan dengan tidak semua calon internal itu bisa lulus ujian PNS tersebut.

    Calon internal itu calon pegawai yang udah ada yang udah magang bbrp tahun, disediakan jatah lowongan sesuai pendidikan dia, tapi hasil ujian semua tergantung dia sendiri. Jadi lowongan udah dibuka, calonnya juga sudah ada tapi kadang calon itu malah ga diterima, yang keterima malah orang baru yang ga punya skill & pengalaman :(

    Kalo ujian nasional lulus, dilanjutkan ujian skill, kalo yang calonnya udah ada bisa dipastikan dia yang bakal diterima. Dan menurutku ini bukan kecurangan, karena universitas memang butuh yang berpengalaman dan mampu. Kebanyakan kalo yang diterima orang baru dari luar mereka bisa lulus karena kemampuan akademik aja. Butuh waktu lagi untuk training. Oia, kerjaanku di sini programmer dan system developer, mulai magang sejak 2005 jadi PNS 2009. Coba aja bayangin kalo yang keterima orang baru. Kebetulan untuk lowongan teknisi yang keterima malah cewek dan emang ga punya kemampuan teknis :(

    Setelah penerimaan, wakil rektor 2 juga menyampaikan pada cpns yg diterima bahwa semua yang lolos adalah karena kemampuan sendiri, kalau ada yang pernah meminta duit dan menyatakan bisa membantu kelulusan brarti orang itu penipu.

    Ingat lho, yang bilang ga mampu itu rektor & wakil rektor.

    Makanya saya jadi ragu, jangan2 yang di luaran yang meminta duit itu juga sebenarnya ga punya kemampuan juga, tapi cuma menipu orang aja. Kalo yang “dibantu” bisa diterima dia akan dengan bangga menunjukkan “jasanya” tapi kalo tidak diterima mungkin duitnya akan dikembalikan (bisa seluruhnya ato sebagian), yang jelas si penipu tidak akan rugi.

  • Jon Bastian 6 years ago

    Seharusnya yang ga usah ada PNS lagi tu di depkeu, kegedean gajinya, jomplang kalo dibanding gaji2 pendidik generasi bangsa. harusnya aturan si SRI MULYANI direvisi lagi, dia yang naikin gaji pns di depkeu, dia pun kabur ke luar, kecatut kasus century pun dia. F*CK depkeu!!!!!!!!!!!!!!!!!!! penghabis anggaran negara, pegawai2nya kotorrrr!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Brengsek semua!!!

  • Abu Zakie 6 years ago

    Setuju, sekali Mas, saya tahun 1977 selulus SLA ikut test CPNS, Test di Istora Senayan seperti SNMPTN alhamdulillah tahap demi tahap saya akhirnya lulus tanpa nyogok, tapi berjalan 3 tahun saya keluar karena gajinya kecil jadi saya fikir kalau ingin kaya susah kecali korupsi… lebik baik saya bekerja di instansi yg memberikan gaji lebih besar alhamdulillah terkabul. Kalau ingin jd PNS tapi nyogok… gak abis fikir saya…

  • mira 6 years ago

    Kasian sih sm yang masih mau nyuap supaya bs jadi PNS. Yang saya bingung mah kenapa juga jadi PNS itu seolah adalah hal yang ‘wah’ banget, padahal mah biasa aja *curhat*

  • ordinarylabor 6 years ago

    Alhamdulillah, istri saya lolos CP*S formasi 2010 cuma habis puluhan ribu mungkin, ongkos foto copy berkas, materai, bbm utk 20km PP, makan siang, dan amplop resmi yg ada stempelnya CP*S di kantor pos… semoga bisa epat jadi P*S yg jujur dan amanah… bayank praktek yg tdk bener di pengadaan CP*S, meski bagi yg beruntung mereka hanya modal Otak dan Nasib… namanya juga moratorium…. yah berhenti sebentar deh… biar rakyat Indonesia yakin dan percaya lagi…. setelah puasa sampai 2012… yg saya takutkan apakah oknum2 tsb akan balas dendam di 2014-2015. Dati II dan Dati I sekrag kebanyakan dipimpin oleh orang2 selain dari Demokrat. Makanya Demokrat dengan kekuasaanya di Pusat getol utk ngadain moratorium. Terlepas dari keluarga saya juga makan duit negara (krn istri CP*S)… saya kok merasa semuanya ini hanya keputusan politis saja… setelah efek sosiologis positifnya didapat… ya balik lagi deh praktek ke yg semula… dan menurut saya bakal terjadi di partai manapun yg berkuasa nanti, apapun itu inilah Indonesia saya, kalau saya tdk bisa merubah…mungkin masih ada org2 bersih di republik ini yg bisa membersihkan ibu pertiwi dari oknum2 tersebut…. Amin…. btw, saudara saya juga bayar semua tuh 1 di CPNS th 90-an sekitar 20 jt-an…. satu lagi di P*L*S* th 98-an 20 jt-an juga

  • lowongan kerja 6 years ago

    saya setuju sekali mas….hampir semua orang tergila” yang namanya jadi PNS….pendidikan Indonesia mengajarkan untuk jadi pekerja seperti zaman feodal bukan untuk menjadi seorang wirausaha mandiri yang bisa bermanfaat bagi banyak orang.

  • zaenal 6 years ago

    saya juga nggak setuju dengan PNS yang masuk lewat menyogok.
    terjadi pada kakak yang waktu itu dimintai uang sebesar 80 jt, tapi karena tidak bisa menyediakan sesuai dengan waktu yang diminta akhirnya dia tidak bisa masuk PNS.
    masalah apakah uang gaji PNS yang masuknya lewat menyogok itu haram atau tidak, koq saya masih ragu-2, karena diakan kerja selama sebulan, dan akhir bulan dapat gaji?
    itu logika saya.
    lalu bagaimana dengan karyawan pabrik yang masuk kerja dengan membayar kepada calo?

    trims sebelumnya

    zaenal

  • BRIPTU NORMAN 6 years ago

    yg segelintir kok di blow up mas? piye toh? hti2 mlh mas yg kena azab….

  • dimas 6 years ago

    hari gini mana ada yang peduli lagi sama “surga & neraka”, sudah tidak peduli lagi, tidak penting, yang penting isi perut. titik. agama ga bisa ngisi perut. Banyak orang rela bayar jutaan bahkan ratusan juta agar anak atau keluarganya bisa masuk pns, polisi ato akmil karena tiga posisi ini memang punya kans besar untuk bisa lebih dari sekedar “isi perut”. ibarat usaha, modal awal pasti balik dengan cepat, apalagi kalo jadi polisi, lebih maknyuss :D. itulah realita.

  • adzi 6 years ago

    …kenapa siie orang islam selalu memakai permainan(cara) orang yahudi…
    .
    .
    .

  • azlan kadir 6 years ago

    setuju tapi tak semuanya PNS dari hasil begituan, ada juga PNS hasil yang fair : hehe

  • ndoweh 6 years ago

    setubuh…eh setujuuuuuuu.
    Saya juga PNS tanpa KKN. Di kantor saya PNS yg masuk secara fair dan tidak fair keliatan banget cara kerjanya. Yg masuk dgn cara fair lebih giat dan jujur krn mereka bangga jd PNS tanpa KKN sedangkan yg pake cara gak fair orangnya males2 dan cenderung jd koruptor buat balikin modal.

  • irkhamov 6 years ago

    Ironi sebuah negara yg ‘katanya’ religius. Semua warganya beragama tpai sebagian dari mereka tidak merasa malu melakukan suap dan korupsi secara sadar dan sukarela dan diceritakan kemana2 lagi. Saya bilang sukarela karena ada yg tergolong suap, tapi terpaksa kita lakukan, seperti ngurus surat2 ke kantor desa, ngurus SIM ke polres dan beberapa lagi.

  • cyshaluphy 6 years ago

    Semoga saya lolos tes cpns dengan bersih

  • kasdut 6 years ago

    sepertinya kondisi realnya seperti itu mas, maaf kata : yang terjadi di lapangan : PNS/Aparat cenderung termotifasi bekerja bukan untuk pengabdian kepada masyarakat apalagi negara tetapi untuk cepet balik modal.

  • sukasah 6 years ago

    Setuju sekali penerimaan PNS harus dihentikan dulu…..terutama di daerah, Coba lihat pegawai daerah satu keluarga kok bisa masuk semua……karena ada keluarganya jadi Pejabat, kalau perlu ini harus diteliti ulang……karena termasuk Korupsi…..ayo KPK turun tangan, dan penerimaan PNS untuk masa yang akan datang lebih baik ditangani pusat saja…agar tidak terlalu banyak KKN, dan tenaga Kontrak atau Honorer harus dihapuskan karena merupakan salah satu pintu KKN……karena untuk menjadi honorer tidak dites…dan kalau ada kenalan baru bisa honor……jadi sebaiknya pengangkatan tenaga honor juga harus di Uji ulang…contoh yang dilakukan Kementrian Keuangan….tenaga honorer ngga langsung diangkat, tapi diuji lagi……i

  • edward 6 years ago

    p*l*s* = POLISI trus yang A*k*p*l = AKPOL …. takut amat mas

  • peenes 6 years ago

    setuju, mas!
    serahkan setiap pekerjaan pada ahlinya, seleksi pegawai sesuai kemampuannya dan kebutuhan, serta tempatkan pada pos yang sesuai dengan bidang keahliannya.

    dalam seleksi dan penempatan gunakan pertanyaan berikut
    bukan “kamu kenal siapa?” atau “berani bayar berapa?, tetapi “kamu bisa apa?”

  • joko 6 years ago

    dan akhirnya.. sk cpns saya keluar dan sampai saat itu satu rupiahpun tanpa mengeluarkan uang…

  • cho 6 years ago

    sepakat.
    sesuatu yang diawali dengan hal buruk, akan menghasilkan hal yang buruk pula.
    btw, nulis polisi ama akpolnya kok pake tanda bintang, tapi nulis PNSnya kok gamblang.

  • Wayan Bali 6 years ago

    Betul mas saya setuju itu karena saya punya istri bisa PNS tanpa uang sepeserpun, walaupun waktu SK nya belum keluar saya di minta bantu biaya ke Jakarta untuk ngambil SK segala, oleh oknum tertentu tapi saya tidak mau dan saya bilang kalau tidak ada biaya tidak usah di ambil SK istri saya.

  • Pakde Benie 6 years ago

    setuju mas widayat, alhamdulillah saya jadi pns dengan bersih artinya tanpa kkn dan suap menyuap …….

-

Author

Follow Me