Moratorium PNS = Menutup Lubang Neraka …

16 Sep 2011

” Bahkan seorang Gayus Tambunanpun masih punya penghasilan halal. Sekecil apapun persentasenya. Tetapi tidak dengan seseorang yang menjadi PNS dengan cara menyuap”.

Mungkin judul dan penggalan kalimat di atas terasa berlebihan. Tetapi sebenarnya saya tidak bermaksud untuk melakukan justifikasi secara sepihak tanpa fakta.

Bagi saya memang terasa demikian. Penerimaan PNS adalah salah satu jalan tol menuju neraka buat berbagai pihak. Tentunya hanya saya tujukan bagi sistem penerimaan PNS yang diwarnai KKN. Ini umumnya terjadi pada penerimaan PNS di daerah. Untuk penerimaan PNS di Pemerintah Pusat umumnya relatif lebih fair. Apalagi yang rekruitmen pegawainya dilakukan melalui jalur sekolah kedinasan. Berdasarkan pengalaman ini merupakan jalur penerimaan PNS paling bersih.

Lalu apa pengalaman pribadi yang pernah saya alami sehingga saya berani mengambil kesimpulan?

Ini beberapa di antaranya yang bisa saya sebutkan.

1. Sekitar tahun 90′an. Saya punya tetangga yang berprofesi sebagai pedagang. Selepas anaknya lulus SMA dia mendaftarkan anaknya untuk menjadi anggota p*l*s*. Dan akhirnya anaknya diterima. Sehabis itu tanpa malu-malu dia cerita bahwa dia menghabiskan uang sebesar 30 juta agar anaknya lolos tes. Saya menilai dia cenderung bangga mengeluarkan uang itu dan bukannya merasa malu.

2. Adik-adik saya mendapat info bahwa mereka harus membayar 125 juta agar bisa lolos tes PNS. Tentu saja ibu saya langsung menolak. Menurut beliau uang sebesar itu lebih baik untuk membuka usaha baru. Di samping tidak menjadi beban buat negara, membuka usaha baru malahan akan membuka lapangan pekerjaan.

3. Pengalaman saya yang juga dialami oleh teman saya. Kami berdua pernah memberikan nasehat kepada famili kami yang bermaksud memasukkan anaknya menjadi PNS dengan cara menyuap. Dan kami berdua sama-sama gagal meyakinkan mereka (Atau sudah tahu tetapi mereka tetap nekad ya?).

Teman saya ini mendapat jawaban demikian dari familinya;

“Saya khawatir anak saya nggak bisa menggarap sawah dan nantinya malah habis terjual. Makanya mendingan sawah itu saya jual buat bayar anak saya jadi anggota p*l*s*. Masa depannya jelas”. Dia mengeluarkan uang sebesar 70 juta.

Sedangkan untuk kasus famili saya kelanjutannya saya tidak tahu. Tetapi yang jelas sekarang anaknya sudah jadi PNS.

4. Yang bersangkutan sendiri yang membeberkan bahwa dia membayar 250 juta agar anaknya lolos tes Akp*l. Dia sempat mengajak salah satu temannya tetapi ditolak karena terlalu mahal (Kemahalan lho. Bukan takut dosa). Saya tidak tahu apakah uang ini yang membuat dia lolos atau dia hanya menjadi korban penipuan saja. Karena saya punya beberapa teman yang lolos tes tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Tapi pada kenyataannya memang anak tetangga saya itu sekarang sudah menjadi seorang perwira.

Masih banyak cerita lain yang berseliweran dan saya yakin sebagian besar dari Anda juga pernah mendengar atau bahkan mengalaminya sendiri (Dan mungkin bisa membagi pengalamannya di sini).

Jadi kalau demikian apa yang dapat kita harapkan dari mereka-mereka yang menjadi PNS dengan jalan demikian. PNS yang masuk berdasarkan perhitungan dagang. Tanam modal dan berharap memetik keuntungan nantinya. Melalui perhitungan kasar, seorang PNS baru akan balik modal setelah bekerja selama beberapa tahun. Dan sebagai orang PNS yang berpikiran pedagang tentu saja dia akan berusaha secepat mungkin meraup keuntungan.

Caranya ? Ya tentu dengan mencari penghasilan tambahan. Ada yang mencari penghasilan ilegal dan ada yang membuka usaha di luar. Tapi perlu dicatat bahwa menjalankan kegiatan usaha sampai mengorbankan jam kantor juga merupakan salah satu bentuk korupsi. Yaitu korupsi waktu.

Seorang PNS yang masuk dengan cara murni menyuap, sebagai seorang muslim saya ibaratkan bagaikan membuat bakso dengan daging babi. Dimakan baksonya haram. Dijual uangnya juga haram. Semua yang dihasilkannya akan menjadi uang haram (saya tidak bisa membuat pengibaratan untuk penganut agama lain. Silahkan membuat pengibaratan sendiri-sendiri.).

Begitu juga PNS yang masuk dengan cara menyuap. Gaji yang seharusnya halalpun menjadi haram. Apalagi kalau sampai dia melakukan korupsi. Bahasa gaulnya haram kuadrat !

Mengapa demikian ?

Itu karena gaji dan penghasilan dia terima seharusnya menjadi hak orang lain. Hak orang-orang yang seharusnya lolos tetapi akhirnya gagal karena tidak mampu atau tidak mau membayar. Orang yang seharusnya mampu membawa negara ini ke arah yang lebih baik dengan kemampuan mereka.

Jadi sebagai teman saya mengajak diri saya sendiri khususnya dan pembaca sekalian. Ingatkanlah apabila ada keluarga, saudara atau teman agar menghindari menghalalkan segala cara hanya karena ingin manjadi PNS. Rejeki Allah yang halal terhampar di seluruh permukaan bumi. Tak satupun mahluk tercipta tanpa Dia menjamin rejekinya

Oleh karena itulah saya berpendapat bahwa moratorium penerimaan PNS sedikit banyak sama halnya dengan menutup sebagian pintu neraka. Menutup salah satu sumber KKN yang paling nyata, menutup peluang para oknum pejabat yang menjadi panitia seleksi bermain, menutup peluang seseorang yang berpotensi mendapatkan penghasilan tidak halal seumur hidupnya, memutus lingkaran setan korupsi, dan lain-lain. Walaupun tujuan utama yang sebenarnya adalah menyehatkan keuangan negara.

Moratorium penerimaan PNS memang layak dilakukan dengan beberapa pengecualian. Lebih lama lebih baik. Sampai ditemukan suatu sistem penerimaan PNS yang fair. Baik dari segi kebutuhan maupun teknis rekruitmennya.

Saya tekankan bahwa memang tidak semua rekruitmen PNS seperti ini. Tetapi saya tidak tahu berapa persentasenya.

Bagi PNS yang memang menjadi PNS sesuai dengan haknya, saya sampaikan salam hormat saya.

Ini hanyalah pendapat saya secara pribadi.

Wallahu ‘Alam Bishawab.

Blog saya:wonosobokemekelen


TAGS moratorium pns


-

Author

Follow Me