Saat Pendekar Golongan Putih Turun Gunung …

8 Jul 2012

“Seluruh ilmuku telah kuturunkan padamu. Kini saatnya bagimu turun gunung untuk menegakkan kebenaran dan kebajikan di muka bumi ini …”

Sepenggal kalimat ini dikutip dari dialog sebuah film silat tahun ‘80-an.

Kalimat itu sepertinya cocok jika diterapkan kembali belakangan ini sampai tiga hari ke depan berbarengan dengan akan berlangsungnya pilgub DKI Jakarta. Dari berbagai sumber seperti media online, jejaring sosial, dan pembicaraan langsung dengan teman-teman nyata sekali ada satu hasrat besar bahwa mereka, para pendekar golongan putih bertekad bulat turun gunung untuk turut memilih pemimpin Jakarta.

Banyak yang mengira bahwa orang-orang yang memilih golput adalah sekelompok orang yang kurang memiliki kepedulian pada kehidupan bangsa. Padahal bukan itu sebenarnya yang ada di hati mereka. Pada beberapa pemilihan pemimpin terdahulu mereka bersikap skeptis karena memandang bahwa tidak akan ada bedanya siapapun yang memimpin suatu daerah karena ketidaktersediaan calon pemimpin yang akan mampu memberikan perubahan. Setiap calon hanyalah orang-orang berkualitas sama. Janji-janji yang dilontarkan luar biasa muluk sehingga secara logika susah dicerna akal bagaimana cara mereka akan memenuhinya nanti. Bagi pemimpin model ini yang penting terpilih dulu, soal janji pikir belakangan. Semua mengklaim bahwa mereka adalah yang terbaik tanpa didukung bukti nyata. Tidak memiliki semangat menentang arus besar kapitalisme dan keberpihakan kepada perekonomina rakyat kecil.

Dan akhirnya terbukti bahwa setelah mereka terpilih simbol-simbol ekonomi kapitalisme seperti pusat perbelanjaan, hypermarket dan mini market menjamur di mana-mana sementara keberadaan pasar tradisional sebagai lambang kekuatan ekonomi rakyat kecil perlahan-lahan semakin terpinggirkan. Dan tontonan cerita bak sinetron murahan dengan lakon yang samapun kembali berulang. Sungguh sangat membosankan.

Namun rupanya pilgub DKI kali ini menawarkan cerita berbeda buat mereka, para penganut golput yang hatinya menderita menunggu hadirkan lakon dan cerita yang benar-benar baru. Lakon yang memberikan harapan akan adanya sebuah perubahan. Kisah seorang lakon yang kebaikannya tidak perlu diiklankan karena sudah tak terhitung media masa yang memuat kisah suksesnya, tidak perlu digembar-gemborkan prestasinya karena masyarakat sudah merasakannya manfaatnya, kepedulian dan kedekatannya dengan wong cilik tidak hanya mendadak muncul menjelang pemilu dan segera mengambil jarak ketika pemilu usai.

Inilah saat yang tepat bagi kaum golput untuk mengambil peran. Saatnya untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang dulu memilih golput pada dasarnya memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kemajuan bangsa. Golput umumnya didominasi oleh orang-orang yang memiliki sikap kritis di atas rata-rata. Bagi mereka pemilihan pemimpin suatu wilayah harus menghasilkan perubahan positif. Tanpa harapan itu lebih baik mereka tidur di rumah dari pada membuang-buang energi dan secara tidak langsung malah ikut bertanggungjawab terhadap kerusakan suatu daerah akibat salah memilih pemimpin.

Bagi mereka memilih seorang pemimpin bukanlah tindakan main-main. Sesering apapun iklan di televisi, sekotor apapun tembok-tembok di seluruh kota dia kotori dengan gambarnya, selebar apapun baliho yang dia pasang tidak akan bisa mempengaruhi persepsi mereka terhadap seseorang. Mereka adalah orang-orang yang berpikir logis dan hanya percaya jika ada bukti, bukan janji apalagi promosi. Golongan ini menuntut bahwa seorang calon pemimpin harus memenuhi kriteria:

1. Prestasinya sudah terbukti dan diakui secara nasional maupun intenasional, bukan terkenal karena karbitan.

2. Dicintai oleh sebagian besar rakyatnya, bukan dicaci apalagi dimusuhi.

3. Program kerjanya logis dan terbukti pernah sukses diterapkan, bukan hanya janji-janji muluk yang kemudian dilupakan.

4. Kisah suksesnya sudah sering muncul di media masa jauh sebelum pemilihan dilakukan, bukan merupakan iklan dadakan yang dibuat tergesa-gesa untuk keperluan kampanye.

Kini rupanya mereka berpikir telah menemukan orangnya. Tidak hanya satu, tetapi dua orang dalam satu paket. Mereka berdua memiliki kriteria dan kualifikasi seperti yang selama ini ditunggu-unggu dengan harap-harap cemas bak seorang ayah yang sedang menunggu lahirnya bayi pertama. Pilkada kali ini benar-benar memanjakan para golput …

Ayo para pendekar golongan putih. Ini saatnya anda berpartisipasi, “mereka” telah menunggu kita …

.

Wallahu ‘alam bishawab.


TAGS


Comment
  • JabPoer 4 years ago

    ijin copas bos…

  • Riana 4 years ago

    Siap Mendukung “kotak-Kotak”

  • Joko S 4 years ago

    menjatuhkan jokowi-ahok dengan isu SARA udah nggak relevan.

  • supriyanto 4 years ago

    mengerti suana batin rakyatnya itulah pemimpin yang sejati

  • armand 4 years ago

    Saat pendekar golongan putih turun gunung, saatnya kemunculan beng-cu yang ditunggu-tunggu.
    Sy kwi hok ada di belakang para pendekar.

    Salam

  • purple world 4 years ago

    Siaaap…!!!

    (Like this)

-

Author

Follow Me