“Renungan Ramadhan Seorang Awam”

10 Jul 2013

Berdasarkan Kisah Nyata
Teman Sebagai Pelajaran (Bagian I)
Demikian beragam Tuhan menciptakan sifat manusia. Mungkin itu semua agar kita bisa memetik sebuah pelajaran darinya. Seperti pengalaman yang kualami ketika berteman dengan dua orang yang berbeda sifat.
Di satu sisi aku berteman dengan seseorang yang menurut penilaiannya sendiri dia dan keluarganya adalah calon penghuni sorga. Menyebut suaminya dengan julukan malaikat dan anak-anaknya dengan sebutan bidadari. Selalu menceritakan tentang cara hidupnya seolah-olah pola hidupnya adalah contoh terbaik yang harus diteladani orang lain. Mencontohkan kesederhanaan di rumahnya yang tergolong mewah. Menyebut suaminya yang prestasinya biasa-biasa saja laiknya membicarakan seorang sahabat Nabi.
Di sisi lain aku mengenal seseorang yang demikian rendah hati dan tak menyadari betapa keluarganya adalah kumpulan orang-orang hebat yang patut dibanggakan. Dia, istri dan dua putrinya yang masih SD sudah menulis buku yang diterbitkan dan dijual secara nasional. Kabarnya putri bungsunya akan segera menyusul. Begitu rendah hatinya dia hingga kadang-kadang masih menghubungi aku untuk sekedar menanyakan bagaimana membuat prolog yang bagus untuk sebuah tulisan.
Kesederhanaan hidupnya tak usah dipertanyakan lagi. Dia tak pernah menceritakannya hingga hanya sahabat-sahabat terdekatnya saja yang tahu. Beruntung sekali aku adalah salah satu darinya. Dalam sebuah kesempatan dia pernah berkata: “Sepanjang masih ada sebutir telur untuk anakku, aku merasa hidupku sudah aman. Aku dan istriku biasa makan dengan lauk kecap dan krupuk …”.
(Bersambung …)


TAGS


Comment
-

Author

Follow Me