Jokowi Bisa Dikalahkan (Bagian I) …

24 Dec 2013

Menilik liputan media, opini publik, hasil survey dan lain-lain, belakangan orang cenderung berpendapat bahwa tahun ini adalah mutlak tahunnya Jokowi. Menurut mereka, jika mencalonkan diri Jokowi pasti jadi presiden. Jokowi tak mungkin bisa dikalahkan dengan cara apapun dan oleh siapapun.

Padahal di dunia ini tak ada sesuatu yang pasti. Jadi selalu ada sebuah kemungkinan sekecil apapun untuk terjadinya suatu peristiwa yang sebelumnya nampak mustahil dilakukan.

Kalau Golkar era orde baru yang didukung sepenuhnya oleh birokrasi saja bisa dikalahkan kemudian tumbang kenapa Jokowi tidak? (belakangan berubah menjadi Partai Golkar).

Kalau Presiden Soeharto yang pada saat berkuasa mendapat julukan sebagai orang terkuat di Asia saja bisa dikalahkan kemudian lengser, kenapa Jokowi tidak?

Faktor yang bisa menghadirkan kekalahan pada Jokowi bisa dibagi menjadi tiga. Yang pertama adalah Faktor Internal (Pasif), yang kedua adalah Faktor Eksternal (Aktif) dan yang ketiga adalah Faktor Who? (Sosok/Person).

Faktor Internal (Pasif) yang saya maksud di sini adalah suatu keadaan yang berasal dari dinamika di dalam tubuh partai tempat dia bernaung yaitu PDIP atau sesuatu yang muncul dari dalam diri Jokowi sendiri yang berpotensi membuat voters tidak memilih atau berpikir ulang untuk memilihnya. Para pesaing tak perlu repot-repot melakukannya faktor ini sudah memperlemah Jokowi dengan sendirinya.

Faktor Eksternal (Aktif) adalah berbagai cara yang bisa dilakukan oleh kompetitor untuk menggoyang popularitas Jokowi dengan maksud mengurangi dukungan suara kepada Jokowi atau menghimpun suara para penentang Jokowi untuk bersatu mengalahkan Jokowi.

Faktor Who? (Sosok/Person) adalah satu atau gabungan dua orang yang mampu melakukannya. Maksudnya mampu menghimpun kekuatan dari suara-suara yang tidak memilih Jokowi untuk bergabung dalam satu suara mendukung mereka (semacam Koalisi Poros Tengah). Saya mencatat paling tidak 4 (empat ) orang yang memenuhi kualifikasi ini.

Mari kita urai satu persatu.

Faktor Internal (Pasif) :

1. Jokowi maju sebagai Capres berpasangan dengan kader internal PDIP

Jika ini dilakukan maka PDIP mengulang kebodohan yang pernah dilakukan pada era pemilu 1999. Pada tahun itu PDIP mendapat berkah limpahan suara Wong Tjilik yang tengah mengalami euphoria tumbangnya orde baru. Megawati memenangkan hati rakyat sebagai lambang seseorang yang dikuyo-kuyo oleh rezim berkuasa. PDIP memenangkan pemilu 1999. Tapi sayangnya kemenangan itu membuat PDIP mabuk kepayang. Sedikit bersikap layaknya Kere Munggah Bale. Hingga para petinggi partai menjadi arogan dan sepertinya ingin mengatur negara ini sendirian layaknya sebuah partai yang memenangkan pemilu dengan perolehan suara mayoritas. Mereka tak mau berkoalisi dengan partai lain. Sejarah kemudian membuktikan Megawati kalah oleh manuver Amien Rais dengan Poros Tengah-nya yang mengusung Gus Dur sebagai calon Presiden.

Besar kemungkinan skenario yang sama akan terulang jika PDIP ngotot mengajukan Jokowi sebagai presiden berpasangan dengan kader internal PDIP (entah Puan atau Prananda demi mempertahankan trah Soekarno di jajaran elit Pemerintahan RI). Kengototan PDIP mengajukan pasangan capres-cawapres dari internal PDIP adalah perekat kuat persatuan partai-partai pesaing untuk bersatu mengalahkan mereka.

2. Sikap Jokowi yang klemar-klemer, cengengesan dan terkesan kurang berwibawa

Gestur tubuh seorang calon pemimpin memegang peranan cukup penting dalam sebuah pemilihan. Terutama sekali di kalangan masyarakat yang benar-benar tidak mengerti masalah politik, tak tertarik program, buta internet, dan lain-lain. Bagi mereka, pertimbangan memilih pemimpin hanyalah sekedar melihat kegantengan wajah, gerak-gerik, bentuk tubuh dan segala sesuatu yang berhubungan dengan penampilan saja (Ini salah satu sebab mengapa menjadi tak begitu mengherankan jika kemudian SBY memenangkan Pilpres 2 periode berturut-turut).

Buat golongan masyarakat jenis ini tak akan menjadi pertimbangan bahwa setelah berkali-kali dipimpin orang yang penampilannya berwibawa ternyata tak membawa perbaikan pada kehidupan mereka. Tak ada pertimbangan reputasi, tak ada pertimbangan prestasi, apatah lagi masalah kemampuan. Pokoknya asal tampilannya oke, coblos !! Setelah itu mereka balik ke rumah dan hidup seperti biasa. Tak ada ekspektasi atau motivasi politis apapun sebagai pertimbangan saat memilih seorang pemimpin. Jokowi susah sekali menarik orang-orang semacam ini.

3. Sikap Jokowi yang begitu tunduk pada Megawati

Megawati adalah mantan presiden era reformasi (dan kemungkinan akan diikuti SBY) yang dinilai gagal oleh mayoritas banyak (kecuali pendukung PDIP tentunya). Namanya tak memiliki popularitas mengesankan. Bersama SBY, Megawati adalah nama tokoh yang amat sering di bully di media sosial. Sikapnya yang paling dikenal adalah sikap tutup mulutnya. Program yang paling dikenal adalah penjualan aset negara. Para pendukung Jokowi tidak akan rela melihat tokoh pujaannya terlihat munduk-munduk di hadapan mantan presiden seperti itu. Mereka hanya melihat Jokowi berdasarkan apa yang telah dia lakukan sejauh ini dan tak menyukai keterlibatan orang lain yang sudah terbukti tidak menunjukkan prestasi yang memuaskan ketika mendapat kepercayaan memimpin Indonesia. Prinsipnya Jokowi Yes ! Megawati No !.

4. Latar belakang partai

Saya sendiri tidak begitu mengerti entah kenapa dari begitu banyak partai berlatar belakang Nasionalis, PDIP menjadi partai yang paling dimusuhi partai-partai Islam. Ini tak dialami oleh Partai Golkar, Partai Demokrat dan lain-lain. Berdasarkan kondisi seperti itulah mengapa latar belakang partai Jokowi juga bisa menjadi salah satu faktor yang menghambat kemenangannya. Jokowi akan mengalami kesulitan mengeruk suara sebesar-besarnya dari kalangan simpatisan partai-partai Islam (Percaya atau tidak jika dalam Pilgub DKI kemarin Jokowi maju dari calon perorangan, maka kemungkinan besar dia akan memenangkan pilgub hanya dalam satu putaran dengan persentase suara cukup mutlak). Prinsipnya : Jokowi Yes ! PDIP No !.

5. Megawati maju sebagai capres dan Jokowi sebagai cawapres

Jika skenario ini terjadi, maka inilah blunder politik terbesar di dunia perpolitikan Indonesia pasca reformasi. Rupanya para politikus dari PDIP benar-benar kurang peka terhadap arus besar kehendak publik yang tengah mengalir deras.

Mereka berpikir bahwa para pendukung Jokowi menyerahkan cek kosong yang bisa ditulis seenak wudel mereka sendiri. Mereka pikir dukungan publik terhadap Jokowi adalah dukungan yang bersifat membabi buta dan tanpa syarat (meskipun dalam kenyataan pendukung yang demikian jumlahnya juga tidak bisa diremehkan).

Itu salah besar. Para pendukung Jokowi punya syarat mutlak. Mereka hanya mau memilih Jokowi hanya jika Jokowi menjadi calon presidennya. Dalam pandangan Jokowi harus memegang kekuasaan tertinggi yang memiliki otoritas penuh menjalankan pemerintahan. Bukannya menjadi ban serep atau parahnya diperlakukan sebagai hiasan dan vote getter saja. Mereka hanya percaya pada integritas Jokowi. Bukan yang lain.

Sebenarnya saya ragu elit politik PDIP tak mengetahui fenomena ini. Bisa saja ini terjadi karena mereka tak kuasa menahan syahwat politik untuk turut menikmati kue kekuasaan jika Megawati berhasil duduk di tampuk kepemimpinan RI. Perhitungan mereka, menilik apa yang sudah terjadi di Pemprov. DKI di mana Jokowi menjauhkan penunjukan para pejabat pemerintahannya dari unsur KKN maka jika Jokowi yang menjadi presiden besar kemungkinan mereka tak akan mendapat apa-apa. Hal itu masih ditambah unsur di dalam diri Megawati sendiri yang memang masih terbaca ingin kembali mencoba peruntungannya (meskipun ini sebenarnya bahkan sudah ditentang oleh almarhum Taufik Kiemas).

Menurut saya faktor internal kelima ini adalah faktor utama yang dapat menyebabkan kekalahan Jokowi jika maju dalam pilpres 2014. Karena komposisi Megawati-Jokowi tak hanya sama sekali tidak menarik bagi para pendukung Jokowi, tapi lebih dari itu bisa memicu pemberontakan untuk melakukan gerakan golput atau lebih parahnya berbalik mendukung tokoh dari partai lain di pilpres 2014 nanti. Sekali lagi di sini berlaku prinsip: Jokowi Yes! Yes! Yes! Megawati No! No! No!.

Bagi saya sendiri, keputusan Megawati untuk maju dengan menjadikan Jokowi sebagai cawapres atau malahan tidak memajukan Jokowi sama sekali adalah sebuah Golden Ticket buat Prabowo Subianto.

Jadi jika kejadiannya memang demikian maka mari kita ucapkan:

Selamat Datang Presiden Prabowo Subianto !

.

(Bersambung )

.

Wallahu Alam Bishawab


TAGS


-

Author

Follow Me