Menunggu Clash of The Titans: Jokowi vs. Prabowo …

11 Apr 2014

Selesai sudah pesta demokrasi babak pertama. Kejutan demi kejutan bermunculan. Ada yang terkejut kemudian melonjak gembira. Ada yang terkejut lalu lemes. Pemilu legislatif kali ini juga menghasilkan sebuah kata baru yang amat terkenal. Kata yang layak menjadi idiom baru, yaitu effect. Kata yang sebelumnya hanya identik dengan nama salah satu capres ini kini menjadi kata yang berbalik menyerangnya. Walaupun secara resmi belum diumumkan tetapi nampaknya hasil akhir tak akan jauh dari data hitung cepat. Keampuhan para tokoh pembawa effect-pun ramai diperdebatkan.

Bermula dari kata dasar Jokowi Effect kini muncul kata turunan berupa Prabowo Effect, Rhoma Effect, dan lain-lain. Pileg kemarin memberikan bukti bahwa Jokowi Effect minim pengaruhnya bagi perolehan suara PDIP (Saya nggak tahu apakah sehabis pileg kemarin diam-diam Megawati menangis tersedu-sedu menyesali keputusannya sambil berkata: Oalah Jok Jok !!! Nek mung 19% aku dewe yo biso. Ga usah nganggo epek-epekan !!!).

Yang lebih menarik diperbincangkan justru efek yang ditimbulkan beberapa figur dari partai lain. Prabowo Effect tak bisa dibantah lagi adalah lokomotif penarik gerbong Partai Gerindra. Para penumpang berduyun-duyun menaiki kereta ini karena sosok mantan Danjen Kopassus ini.

Paling mengejutkan adalah fenomena Rhoma Effect!

Partai yang menurut saya adalah partai dengan basis real Wong Tjilik ini menikmati pengaruh popularitas Sang Raja Dangdut. Sungguh cerdas keputusan para tokoh PKB menggunakan Rhoma Irama sebagai ikon kampanye. Memangnya apalagi yang lebih mampu menarik kalangan rakyat kecil di seluruh pelosok tanah air melebihi musik dangdut yang didendangkan langsung oleh sang raja? Nawarin program? Ngomongin keberhasilan pembangunan? Realistis lah. Semua itu tak akan didengar oleh masa kampanye.

Lain lagi dengan PKS. Partai ini justru terpapar secara negatif oleh LHI Effect. Partai yang sebelumnya mampu meraih 8% suara kini hanya mampu mendulang 6%. Turun 2%. Beruntung sekali kader-kader ini begitu militan. Pemberitaan negatif akibat skandal impor daging sapi yang melibatkan pucuk pimpinan partai ini yang luar biasa massive di berbagai media masa mampu mereka tangkal agar efek yang ditimbulkan menjadi seminimal mungkin. Mereka layak mendapat apresiasi untuk ini.

Yang paling apes tentu saja Partai Demokrat. Suara partai ini benar-benar tergerus oleh Nazaruddin Effect. Citra negatif akibat kader yang tersangkut perkara korupsi ditambah perselisihan internal menjadikan partai penguasa ini menjadi bulan-bulanan seluruh media tanah air. Beruntungnya, partai ini masih bisa bertahan di empat besar mengandalkan “SBY Effect”.

Pileg kali ini juga membuktikan bahwa media tak memiliki cukup pengaruh untuk mengubah pilihan rakyat. Rupanya rakyat sudah memiliki pilihan dan aturan masing-masing ketika memilih. Buktinya bisa dilihat pada PDIP, Hanura, Gerindra dan PKB. PDIP (Jokowi) dan Hanura mendapat porsi pemberitaan positif paling besar tetapi kenaikan suara yang mereka peroleh wajar-wajar saja. Sedangkan Gerindra (Prabowo) dan PKB (Rhoma Irama) yang banyak menjadi sasaran tembak malah mendulang kenaikan suara sangat signifikan.

Rakyat tetaplah rakyat. Mereka punya aturan sendiri. Mereka sudah bosan didikte media dan para tokoh parpol.

Kini menjadi sangat menarik mengikuti pesta demokrasi tahap kedua. Jokowi yang semula diperkirakan akan melenggang mudah menuju kursi RI 1 melalui PDIP mengandalkan Jokowi Effect-nya kini tak lagi bisa duduk nyaman. Beberapa pesaing kuat siap menunggu. Prabowo Subianto adalah salah satunya.

Parahnya lagi, ketika Jokowi Effect sedang bergerak menuju titik jenuh, bola salju Prabowo Effect justru baru saja menggelinding

So, mari kita nikmati Clash of The Titans pada pesta demokrasi jilid II nanti sambil menikmati gedang ambon satu effect ( eh epek dink )

.

Wallahu alam bishawab.


TAGS


-

Author

Follow Me